Bahasa isyarat jika berdasarkan deskripsinya adalah bahasa yang menggunakan gerak tubuh atau gerak bibir, kita tanpa harus banyak belajar sudah sering menggunakannya walaupun jika dipelajari secara mendalam bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan teman atau saudara yang berkebutuhan khusus semisal Tuna Rungu.
Untuk yang sederhana kita biasa menggunakan jari jempol keatas untuk menandakan apresiasi dan setuju lalu menunjukan telapak tangan terbuka diartikan sebagai tanda stop atau lambaian tangan sebagai tanda perpisahan dan masih banyak lagi.
Saya tidak akan menulis arti dari isyarat yang banyak digunakan tetapi melihat bahwa isyarat ini bisa menandakan kelompok kelompok tertentu. Bagaimana bisa? tentu saja bisa.. apalagi dalam pesta demokrasi 5 tahunan ketika calon yang siap maju diberi nomor urut oleh pihak penyelenggara. Lalu apakah itu salah? tidak ada yang salah.. justru itu sangat mempermudah dalam proses kampanye yang dijadikan kegiatan promosi para calonnya.

Nah justru ada beberapa hal lucu antara bahasa isyarat dengan kampanye  yaitu pada saat moment berfoto dan ini yang saya alami sendiri. ketika saya berfoto dengan beberapa teman dan kebetulan saya berpose dengan mengacungkan 2 jari dan salah satu teman saya berpose dengan 3 jari karena menurut saya itu hal yang tidak umum saya tanyakan alasan kenapa berpose dengan 3 jari dan ternyata alasannya cukup menggelitik yaitu "karena saya pilih nomor 3 kalau kamu pilih nomor 2 kan?" Wow sepertinya saya menyesal bertanya.. jadi ternyata saya berphoto dengan menunjukan 2 jari seolah olah sedang mendukung calon dengan nomor urut 2, Sensitif sekali ya..
Sarannya saya sih tidak perlu sensitif gitu kasihan nomor urut yang jarang dipakai berpose, Salam Demokrasi  


0 komentar:

Post a Comment