2014 akan ada pesta demokrasi yaitu gelaran pemilihan wakil rakyat sampai memilih pemimpin negeri, hal ini bukan hal baru buat bangsa indonesia dalam menggelar kegiatan akbar ini.
Arti demokrasi ini sudah berkembang dengan berbagai persepsi dimasyarakat mulai dari kedaulatan rakyat dalam memilih wakil diparlemen sampai presiden secara langsung atau rakyat bebas memilih hak berpolitiknya tanpa ada paksaan dari pihak manapun bahkan pengumpulan suara mayoritas untuk menjadi pemenang, tapi terserah apapun arti sebenarnya cuma yang menjadi miris yang terjadi sekarang banyak yang berbicara sudah tidak menggunakan etika.
Soal etika yang paling kerasa yaitu dari sisi para pendukung calon pemimpin dilevel masyarakat yang notabennya bukan pendukung yang resmi atau dari partai tertentu mereka dengan mudah dan bangga mengangkat isu keburukan calon yang tidak didukungnya dengan melakukan share berita (khususnya media sosial) yang didapat dari media mau pun informasi obrolan warung kopi tanpa dianalisa kebenarannya.
Aduh mama sayange.. Tolong dong bersikap gentle cara mendukungan kalian kalau memang rasa dukungan anda besar silahkan anda promosikan calon anda dengan baik bukan dengan membeberkan keburukan lawan calon anda dengan menggebu-gebu seolah-olah anda sangat kenal a-z nya orang tersebut. jika semua orang berperang opini kebaikan dan mengangkat dosa-dosa calon lawan akibatnya orang-orang bersikap sebagai pemilih saja akan melakukan penilaian bahwa semua calon itu BURUK karena dimulai dari para pendukung yang BURUK pula.
Isu-isu yang sering diangkat mulai dari :
1. Vonis KAFIR
2. Neoliberal
3. Kapitalis
4. Dsb.
"Jadi apakah keterpurukan bangsa ini karena salah memilih pemimpin atau malah pemimpin tersebut memang salah memilih tempat untuk dipimpin."

0 komentar:

Post a Comment